Selasa, 12 November 2013

MENCICIPI PEDASNYA TANJAKAN – TANJAKAN TREK UPHILL SOREANG – PUNCAK MULYA


Satu lagi trek uphill yang cukup menantang bisa dijumpai di kawasan selatan Bandung, tepatnya di daerah Soreang, yaitu trek Soreang - Puncak Mulya. Berada di sebelah barat kota kecamatan Soreang, kampung Puncak Mulya secara administratif masuk ke kecamatan Kutawaringin. Rute jalur ini mudah ditemui karena titik start-nya dimulai dari kampung Leuwi Munding yang lokasinya tepat berada di belakang Alun – Alun Soreang. Panjang trek Puncak Mulya ini sekitar 6 km dengan dihiasi beberapa tanjakan curam yang cukup menantang untuk ditaklukkan oleh para goweser uphiller/  pecinta tanjakan. Namun tingkat kesulitan di trek ini masih lebih ringan apabila dibandingkan dengan trek Leuweung Datar yang memang memiliki tanjakan lebih banyak, lebih curam dan jarak yang lebih jauh sampai ke titik tertingginya, sehingga ketenaran trek Puncak Mulya ini dengan sendirinya berada di bawah trek Leuweung Datar yang sudah masuk kategori trek uphill legendaris bersanding dengan trek Tanjakan Monteng Majalaya-Kamojang. Tapi mengingat lokasi dan jaraknya yang relatif dekat dengan pusat kota Soreang, juga jarak treknya yang tidak begitu jauh namun dihiasi tanjakan – tanjakan yang cukup menantang membuat trek ini juga cukup banyak didatangi goweser pecinta uphill dan rasanya layak juga untuk dicoba. Dan jadilah saya bersama 3 orang teman mencoba untuk merasakan juga bagaimana pedasnya tanjakan di trek Soreang – Puncak Mulya ini.

Trek Puncak Mulya terlihat dari puncak Gunung Singa

Gerbang menuju kampung Leuwi Munding

Pukul 8 pagi kami sudah berada di Alun – Alun Soreang, sambil mempersiapkan bekal cemilan dan air minum untuk bekal selama perjalanan kami bertemu dan mengobrol dengan goweser – goweser lain yang juga berkumpul di sini, yang memang jadi titik kumpul bagi goweser yang akan melakukan perjalanan seperti ke arah Ciwidey, Buper Andes - Nangerang, dan tentu saja ke kampung Puncak Mulya. Dari ngobrol – ngobrol tersebut didapat informasi bahwa dari kampung Puncak Mulya ternyata perjalanan bisa dilanjutkan menuju kecamatan Cililin atau Situwangi kecamatan Cihampelas kabupaten Bandung Barat dengan melalui daerah Mukapayung dan Walahir. Atau bisa juga dilanjutkan menuju Ciwidey dengan melalui daerah Gunung Padang yang cukup dikenal di kalangan para peziarah, atau orang yang tengah “menginginkan sesuatu”. Bisa juga dilanjutkan menuju Buper Andes dan Sadu dengan melalui kampung Cilame atau yang terdekat ke daerah Pasir Angin yang berada di kaki Gunung Singa Leuwi Munding. Dan kami yang baru pertama kali menjajal trek ini memutuskan untuk turun menuju Cilame saja, tepatnya menuju kampung Cilame Tengah, dan dilanjutkan menyusuri jalan desa dan saluran irigasi kembali ke kampung Leuwi Munding sebagai titik finish dengan alasan ketidaktahuan kami akan estimasi waktu yang dibutuhkan apabila turun ke Cililin atau Ciwidey, sedangkan waktu gowes kami terbatas hanya sampai tengah hari.





Setelah berpamitan kepada goweser – goweser lain, tepat pukul 09.00 kami bergerak menuju kampung Leuwi Munding, pagi yang segar dan tidak terlalu panas mengiringi perjalanan kami. Setelah melewati jembatan Sungai Ciwidey jalan menjadi sedikit menanjak, terus menuju jembatan di saluran irigasi dan berakhir di atas saluran irigasi, “tanjakan selamat datang” ini cukup membuat detak jantung menjadi lebih cepat, lumayan sebagai pemanasan. Dari ujung tanjakan perjalanan dilanjutkan dengan menyusuri jalan beraspal mulus dan berhawa sejuk karena di kiri kanan kami dipayungi rerimbunan pohon – pohon bambu. Karena kebetulan saat itu adalah hari minggu, kami pun berpapasan dengan beberapa rombongan yang akan hiking ke Gunung Singa melalui kampung Pasir Angin. Ya, Gunung Singa di daerah Leuwi Munding ini memang menjadi salah satu lokasi favorit untuk melakukan kegiatan hiking, dan dapat menikmati pemandangan kota Soreang, Bandung dan sekitarnya ketika tiba di puncaknya. 15 menit berlalu sampailah kami di sebuah pertigaan. Berbelok ke kiri menuju ke arah barat adalah tujuan kami, menuju kampung Puncak Mulya, sedangkan lurus ke arah utara akan membawa kita menuju kampung Sinday, Jatisari, Stadion Si Jalak Harupat kecamatan Kutawaringin dan sekitarnya.

Yang pertama harus dihadapi ketika kami berbelok ke arah kampung Puncak Mulya adalah jalan menanjak dengan kondisi aspal yang buruk, sebagian besar aspal di jalan ini sudah habis terkikis dan hanya menyisakan kerikil – kerikil lepas. Kami lumayan dibuat ngos – ngosan, melewati jalan menanjak dengan kondisi jalan penuh kerikil ini. Namun selepas tanjakan ini kondisi jalan mulai membaik dan kami mendapatkan bonus jalan mendatar cukup panjang ditambah sebuah turunan sebelum menuju tanjakan berikutnya. Dari pertigaan sampai ke tanjakan yang kami akan kami hadapi berikutnya ini posisinya berada di sisi utara Gunung Singa, kemudian kami bergerak menuju ke sisi baratnya, sehingga mulai dari ujung tanjakan di depan sampai ke kampung Puncak Mulya posisi kami jadi membelakangi Gunung Singa, ini membuat setiap istirahat dan melirik ke arah timur selalu pemandangan Gunung Singa dan kota Soreang selalu menemani dan menjadi penghibur kami. Tanjakan berikutnya tidak begitu panjang dan relatif masih landai, namun dihiasi sebuah belokan, ini yang membuatnya menjadi menarik. Akselerasi jadi sedikit berkurang karena harus berbelok, hasilnya selepas belokan gowesan harus lebih di-push untuk mengejar akselerasi yang tadi sempat berkurang, dan meskipun tanjakan ini bisa dilewati dengan lancar namun tetap membuat nafas menjadi semakin ngos – ngosan.  Jalan kembali datar, lumayan sekitar 8 menit menikmati jalan mendatar ini, kami bertemu kembali dengan tanjakan landai, dengan karakteristik lurus, kembali tanjakan ini dilewati dengan lancar, tapi betis mulai terasa panas dan gowesan sudah mulai terasa memberat, tidak terasa sudah hampir 2 km kami menyusuri jalur ini, pantas saja betis dan dengkul ini sudah mulai sedikit overheat.  

Tanjakan pertama

Jalur menanjak berlatar sisi barat
Gunung Singa



Hanya 5 menit berlalu di jalan mendatar, tibalah kami di sebuah tanjakan lagi, kali ini lumayan curam dan panjang. Di kiri kami berdiri anggun Gunung Aul dengan 2 puncaknya yang berhadapan, gunung ini terlihat gersang, jarang pepohonan, berbeda jauh dengan Gunung Kutawaringin di sisi kanan kami, gunung ini hijau dan bervegetasi lebat. Di kejauhan terlihat seorang pengendara motor yang berboncengan tengah berjuang melewati tanjakan ini namun gagal, motornya menyerah tidak sanggup melewatinya, akhirnya sang penumpang harus rela berjalan menuntaskan tanjakan tersebut. Kami sedikit gugup, sebegitu beratnya kah tanjakan ini sehingga motor pun harus menyerah di tengahnya?? Satu per satu sepeda melaju mulai mendaki tanjakan ini, selepas jembatan di awal tanjakan betis mulai menegang, namun kaki masih bisa menoleransi kayuhan, sepeda masih bisa melaju meskipun sedikit merayap. Memasuki pertengahan tanjakan gowesan terasa semakin berat, dan di depan ada sedikit jalan bergelombang, inilah yang menyebabkan motor tadi menyerah rupanya, dan memang ketika sepeda menginjak jalan yang bergelombang ini, kayuhan yang tadi sudah dimaksimalkan pun seakan tidak cukup untuk bisa melaluinya, berat sekali memang. Satu per satu kami berhasil melewati tanjakan ini, dan kami pun beristirahat sejenak di bawah rerimbunan bambu di ujung tanjakan untuk mengatur nafas yang tersengal. Di sini rupanya ada juga 3 orang goweser lain yang sama – sama sedang beristirahat setelah melewati tanjakan ini, setelah sejenak mengobrol rombongan goweser tadi akhirnya melanjutkan perjalanan duluan. 10 menit kami beristirahat di ujung tanjakan ini, setengah jalan lagi untuk mencapai kampung puncak mulya, waktu sudah menunjukkan pukul 09.55, ketinggian kami saat itu berada di ± 1025 mdpl, lumayan juga elevasinya, ketinggian saat start di kampung leuwi munding adalah ± 785 mdpl, dan saat ini kami sudah melalui separuh dari keseluruhan perjalanan menuju kampung Puncak Mulya. 

Tanjakan kedua

Motor menyerah di tanjakan kedua

"Menikmati sajian" tanjakan kedua

Sepeda kami pun melaju kembali menyongsong tanjakan – tanjakan yang entah seperti apa di karakteristiknya di depan sana. Selepas tanjakan ini rupanya kami tidak lagi menemui bonus jalan mendatar, yang ada hanyalah jalan berkelok – kelok, tidak terlihat menanjak namun ketika melewatinya betis terasa menegang dan nafas terengah – engah, cukup panjang juga jalan berkelok ini dan di ujungnya ada sebuah jembatan, kemudian jalan berbelok, baru kemudian setelah jembatan ini kami bertemu lagi dengan sebuah tanjakan lumayan curam. Karakteristik jalur yang seperti ini mengingatkan saya ke trek uphill di Bandung Timur yang cukup terkenal yaitu Ujung Berung -  Palintang, jalur ini mirip sekali dengan jalur selepas lapangan bola Palintang menuju titik tertingginya di pertigaan menuju Cibodas, Palasari 2 dan jalur Genteng. Kembali kami beristirahat di ujung tanjakan ini sambil menyaksikan pemandangan Gunung Singa dan kota Soreang di hadapan kami. Di sisi utara terlihat jalan berkelok – kelok yang tadi kami lewati, pantas saja kami terengah – engah, dari sini baru terlihat menanjaknya jalan yang baru saja kami lewati itu. Tidak terlalu lama kami berhenti di sini karena cuaca sudah beranjak panas dan di sini pun cukup gersang, tidak ada pohon – pohon peneduh. Namun di hadapan kami kembali sebuah tanjakan menanti, pendek namun cukup curam, dengan susah payah kami melewatinya, beruntung dari sini kami kembali dipayungi pepohonan sehingga kami tidak terlalu menderita.
Tanjakan - tanjakan landai
selepas tanjakan kedua

Tanjakan - tanjakan landai 
selepas tanjakan kedua

Tanjakan ketiga



Dan tantangan pun berlanjut, selepas ini kembali jalan menanjak, lebih curam dari sebelumnya, kemudian jalan berbelok patah, mirip sekali karakteristiknya dengan tanjakan Omen di trek Leweung datar, hanya tingkat kecuraman dan panjang tanjakannya saja yang berbeda, tanjakan ini lebih pendek dan relatif lebih landai apabila dibandingkan dengan tanjakan Omen. Lutut semakin gemetar, betis semakin menegang dan nafas tersengal - sengal ketika kami melewati tanjakan ini. Seperti halnya ketika melewati tanjakan Omen, di tanjakan ini pun kami berhenti beristirahat di ujung belokan patah di tengah – tengah tanjakan, sepertinya spot seperti ini memang sangat cocok untuk berhenti beristirahat sambil memperhatikan para goweser lain berjuang menapakinya. Seperti yang biasa dijumpai di tanjakan Omen dan tanjakan Monteng Kamojang. Tidak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 10.25 ketika kami beristirahat di sini, dan ternyata jarak yang kami tempuh yang hanya sekitar 600 m ini harus dilalui selama 30 menit lebih.





Tanjakan keempat

Tanjakan kelima yang memiliki karakteristik mirip
Tanjakan Omen Leuweung Datar


Perjalanan menuju kampung Puncak Mulya sudah mendekati akhir, tanjakan ini adalah tanjakan terakhir sebelum memasuki kampung Puncak Mulya. Setelah 5 menit beristirahat kami melanjutkan perjalanan, dan tidak lama kemudian sampailah kami di kampung Puncak Mulya, dengan ciri yang paling khas ketika kita menginjakkan di kampung ini adalah plang SDN PUNCAK MULYA yang menjadi penanda kalau perjalanan menuju kampung Puncak Mulya ini berakhir. Kami tiba di sini sekitar pukul 10.45, berarti kami menghabiskan waktu sekitar 1 jam 45 menit untuk mencapai kampung yang berketinggian ± 1.100 mdpl ini dari Soreang, namun kami bisa memastikan bagi para goweser pencinta uphill jarak 6 km dari Soreang menuju kampung Puncak Mulya ini tidak akan memakan waktu selama kami, mungkin ada yang bisa mencapainya kurang dari 1 jam saja. Dan di sebuah warung di dekat pertigaan kami beristirahat sambil sedikit bertanya – tanya jalur yang akan kami tempuh pada saat pulang nanti.



Semakin mendekati kampung Puncak Mulya



Warung di pertigaan kampung.
Arah yang ada di foto ini menuju ke cililin dan situwangi

Dari pertigaan di dekat warung ini jalur yang mengarah ke utara adalah jalur yang menuju kecamatan Cililin atau ke Situwangi kecamatan Cihampelas dengan melewati daerah Mukapayung dan Walahir yang sempat dilanda longsor besar beberapa waktu ke belakang. Sedangkan jalur yang mengarah ke selatan adalah jalur yang menuju Pasir Angin, Cilame dan Buper Andes, atau ke Ciwidey. Dan sesuai dengan kesepakatan awal tadi, kami pun pulang dengan mengambil jalur kampung Cilame Tengah dan menuju kembali ke Leuwi Munding sejauh kurang kebih 7,5 km. 

Tanjakan lagi selepas warung ke arah selatan


Berlatar Gunung Aul



Turunan makadam menjelang pertigaan
menuju Pasir Angin

Menuju Cilame


Turunan curam menjelang kampung
Cilame Tengah

Bonus singel trek menuju Cilame Tengah

Foto bersama berlatar Gunung Singa dan sekitarnya
Setelah kembali berhadapan dengan beberapa tanjakan, akhirnya kami sepenuhnya meluncur menyusuri jalan menurun menuju kampung Cilame Tengah, dilanjutkan dengan menyusuri jalan ke arah utara di tengah – tengah area pesawahan dan saluran irigasi menuju kembali ke kampung Leuwi Munding sebagai titik akhir perjalanan kami mencicipi pedasnya trek uphill Soreang - Puncak Mulya ini.   


Dimuat di HU Pikiran Rakyat edisi 7 Desember 2013


Selasa, 30 Juli 2013

NIGHT RIDING XC DI TREK CANTILAN – PASIR JEREGED

Setelah hampir menginjak minggu kedua di bulan ramadhan tahun 2013 ini saya melewatkan kesempatan untuk ber-night riding alias gowes malam – malam, akhirnya kesempatan itu datang juga pada hari ke 13 Ramadhan, saya kembali bisa merasakan nikmatnya sensasi bersepeda malam hari atau night riding/ NR. Seperti tahun – tahun sebelumnya, saya dan teman – teman komunitas sepeda ATB selalu melakukan NR dengan menempuh rute -  rute XC di seputaran Soreang Bandung Selatan, dan untuk rute NR kali ini kami akan menempuh rute klasik Cantilan – Pasir Jereged di kecamatan Kutawaringin. Jaraknya tidak terlalu jauh, tapi sajian tanjakannya dari sejak pertigaan Jalan Raya Soreang – Cipatik sampai puncak Bukit/ Pasir Jereged akan memberikan rasa berbeda karena gowes dilakukan dari sore hari sebelum berbuka sampai dengan malam hari. 

Jam 17 kami mulai beranjak dari jalan Kopo Sayati menuju Jalan Raya Soreang – Cipatik dengan mengambil jalur Cicukang – Kampung Adat Mahmud menuju Soreang – Cipatik di kampung Gajah Mekar. Gowes sambil menikmati cuaca sore hari yang cukup bersahabat membuat kami lupa sebenarnya kami masih berpuasa, kami memacu sepeda masing – masing, beberapa teman saling mempercepat laju sepedanya seolah berlomba, seakan terbawa suasana sore itu. Tiba di kampung Gajah Mekar waktu sudah menunjukkan pukul 17.15, kami kemudian berhenti sejenak membeli makanan untuk nanti berbuka puasa. Kami biasanya membawa bekal makanan untuk kemudian disantap ketika azan magrib tiba, di lokasi yang biasanya sudah kami tentukan sebelum perjalanan dimulai. Untuk kali ini kami berencana untuk berbuka puasa dan takjil di ujung gang/ trek semen kemudian makan malam di puncak Pasir Jereged sambil menikmati pemandangan kota Bandung malam hari.

Waktu semakin beranjak senja, waktu sudah menunjukkan pukul 17.30, kami bergegas mengayuh sepeda masing menuju tujuan kami, puncak Pasir Jereged. Selepas berbelok kiri di dekat rumah makan Sate Cantilan kami sudah dihadang tanjakan “selamat datang”, biasanya kami tidak begitu kesulitan melewati tanjakan ini, tapi menggowes sepeda dalam kondisi berpuasa membuat kaki terasa sangat berat untuk mengayuh sepeda, alhasil dua tanjakan ini pun dilalui dengan ngos - ngosan. Lepas tanjakan - tanjakan tadi, sebelum menuju gang/ trek semen kembali tanjakan menghadang, lebih tinggi dari tanjakan “selamat datang” sebelumnya, semakin tersiksa saja kami melewatinya, gowesan semakin melambat, target untuk menunggu azan magrib di ujung gang/ trek semen sepertinya tidak akan tercapai. Di ujung tanjakan, trek semen menanti kami, jalur semen selebar kira – kira 1 m full menanjak sepanjang kira – kira 300 m siap menaklukkan kami. Kami tidak lama berhenti dan langsung masuk ke trek semen, berharap bisa mencapai ujung trek ini pas ketika waktu berbuka tiba. Tapi meskipun gowesan sudah dipercepat ternyata kami hanya mampu mencapai kira – kira setengah dari keseluruhan trek semen menanjak ini ketika azan magrib berkumandang. Kami menghentikan gowesan dan segera mencari tempat yang agak datar untuk berbuka puasa, berhubung kami berhenti di gang sempit selebar tidak lebih dari 1 m, akhirnya kami duduk saja di jalurnya, sebagian ada juga yang duduk – duduk di pematang sawah di pinggirannya untuk berbuka puasa. 

Buka bersama (foto by Agus Opin)

Tenggorokan yang sudah sangat kering, nafas yang terengah – engah, dan jantung berdebar kencang karena kami terus memacu sepeda sejak dari titik start  akhirnya segera terobati setelah beberapa teguk air mineral dan cendol dingin membasuh tenggorokan kering kami, Subhanallah…..nikmat sekali. Persis seperti sabda Rasulullah yang menyatakan bahwa salah satu kenikmatan yang diraih ketika puasa adalah ketika saat berbuka puasa, saya dan teman – teman merasakan benar kenikmatan ini. Satu per satu gorengan yang kami bawa pun berpindah tempat ke perut masing – masing, sambil beristirahat dan mengembalikan stamina, karena kami masih akan menghadapi banyak tanjakan di depan, sementara trek semen menanjak ini saja baru separuhnya kami lalui. Sekitar 15 menit kami berhenti dan perjalanan pun kami lanjutkan, yang pertama dihadapi adalah separuh dari trek semen menanjak ini menuju kampung jereged, tujuan kami adalah sebuah masjid di sana, untuk menunaikan sholat magrib. Meskipun kami sudah berbuka puasa, tapi melewati trek semen menanjak ini dan dilanjutkan dengan sedikit lagi tanjakan menuju lokasi mesjid tetap saja membuat kami terengah – engah, 10 menit kemudian kami pun  tiba di mesjid kampung Jereged. 

Mesjid

Pukul 18.45 kami beranjak meninggalkan mesjid menuju ¼ perjalanan lagi menuju puncak Pasir Jereged. Hari sudah beranjak gelap, senter – senter sudah dinyalakan dan sepeda pun kembali dikayuh melintasi trek semen menuju singel trek, dan sekitar 50 m di depan kami adalah singel trek menuju puncak. Malam yang semakin pekat dan kondisi singel trek yang jauh dari pemukiman warga membuat perjalanan menuju puncak menawarkan tantangan tersendiri, namun untuk keamanan dan keselamatan bersama kami pun memutuskan untuk menuntun sepeda masing – masing melewati singel trek menanjak ini. Kami pun merayap menembus kegelapan di antara rimbunnya rumpun – rumpun bambu dan rerimbunan alang – alang ketika semakin mendekati puncak, sangat mengasyikkan. Ada rasa yang tidak bisa diungkapkan dengan kata – kata ketika kami melewatinya, padahal trek ini sudah sangat sering kami lalui, tapi melaluinya di tengah kegelapan malam benar – benar memberikan rasa tersendiri. Setelah melewati hamparan ilalang yang cukup tinggi sampailah kami di sebuah dataran, tinggal satu tanjakan lagi untuk menuju puncak Pasir Jereged, menuju sebuah lokasi yang akan kami gunakan untuk bersantap, makan malam sambil menikmati keindahan kota Bandung di malam hari.










ada yang ingin ikutan NR juga kayanya

Pukul 19.20 tibalah kami kami di puncak Pasir Jereged, kami langsung disuguhi pemandangan gemerlap lampu – lampu di hadapan kami, gemerlap kota Bandung di malam hari yang semarak dengan lampu – lampu seperti intan berkilauan, sesekali tampak cahaya berpendar dari ledakan kembang api di beberapa titik, semakin menambah keindahan yang tersaji tepat di hadapan kami. Bekal makan malam pun kami siapkan dan segera kami menyantap hidangan makan malam yang tadi kami beli di kampung Gajah Mekar, nikmat sekali makan di tengah hamparan gemerlap dan semarak lampu – lampu kota Bandung di bawah kami, meskipun beberapa saat gerimis sempat membasahi kami, tapi itu tidak cukup kuat untuk membuat kami beranjak meninggalkan semua kenikmatan yang sedang kami nikmati saat itu.



Makan malam sambil menikmati indahnya kota Bandung malam hari




Tidak terasa 1 jam lebih kami berada di tempat itu. Angin yang mulai bertiup kencang dan udara yang semakin dingin seakan membangunkan kami, menyuruh kami untuk segera kembali pulang. Berat rasanya meninggalkan Pasir Jereged yang damai ini, tapi kami harus pulang. Suguhan singel trek plus trek semen yang sekarang akan kami turuni akhirnya membuat kami satu per satu menaiki kembali sepeda masing – masing dan meluncur turun, kembali melewati jalur yang tadi kami lalui. Sebenarnya dari lokasi ini ada beberapa opsi trek untuk pulang. Bisa melewati singel trek menuju kampung Cibodas atau singel trek menuju kampung Jatisari, tapi kami lebih memilih untuk kembali melalui jalur yang tadi kami  lewati, dengan alasan biar bisa finish lebih cepat saja, biar kami tidak terlalu malam sampai ke rumah masing – masing.

Ternyata tidak mudah mengendalikan sepeda menuruni singel trek di tengah kegelapan malam, butuh konsentrasi tinggi untuk melewatinya, seorang teman yang tidak bisa mengendalikan sepedanya harus merasakan jatuh dan terjerembab karena tidak melihat batu lepas dan roda depannya menginjak batu tersebut. Saya pun mengalami nasib naas, roda sepeda saya pun menginjak batu lepas, alhasil saya dan sepeda saya pun terjatuh. Dalam hati saya bersyukur pulang tidak jadi mengambil opsi menuju Cibodas atau Jatisari, saya sudah bisa membayangkan kesulitan yang akan menghadang, karena kami akan mengadapi singel trek menurun yang cukup panjang,terutama apabila melewati rute singel trek Jatisari yang kondisi treknya terhitung masih alami, banyak pepohonan dan perdu merintangi jalurnya, melewati jalur ini di siang haripun harus ekstra waspada karena treknya yang tertutup pepohonan dan rerumputan, apalagi ketika harus melewatinya di tengah pekatnya malam seperti saat ini.

Lepas dari singel trek kami memasuki gang/ trek semen, jalur yang biasanya dengan mudah kami lewati sekarang harus kami lewati dengan hati – hati dan perlahan. Kami tidak berani terlalu memacu sepeda terlalu kencang, konsekuensinya lumayan apabila kami sampai terjatuh. Di samping kiri dan kanan kami adalah saluran air dan persawahan yang jarak dari permukaan jalan ke dasarnya cukup dalam. Namun karena melewatinya pada malam hari, meskipun laju sepeda tidak terlalu kencang namun tetap mengasyikkan melahap gang/ trek semen ini sampai akhir. Dan 15 menit kemudian sampailah kami di pertigaan jalan raya Cipatik – Soreang. Dan rute pulang dari sini kami sengaja tidak melalui jalur yang tadi dilewati ketika pergi, tapi sedikit memutar menuju kampung Daraulin, sedikit memberikan kejutan bagi beberapa teman yang belum pernah merasakan mengayuh sepeda melalui jembatan gantung. Di daerah Daraulin ini terdapat jembatan gantung beralas kayu yang membentang di aliran sungai Citarum Lama, seru juga ketika kami digoyang – goyang jembatan ini ketika melewatinya. Dari kampung Daraulin perjalanan dilanjutkan ke Kampung Adat Mahmud untuk kemudian menuju jalan Kopo dan kembali ke rumah masing – masing membawa sejuta kesan tidak terlupakan setelah ber-night riding dengan ber-XC ria malam – malam.

Minggu, 14 Juli 2013

MENAKLUKKAN TANJAKAN – TANJAKAN LEUWEUNG DATAR, SALAH SATU TREK UPHILL LEGENDARIS BANDUNG

Kawasan Bandung Raya yang dikelilingi perbukitan menyajikan berpuluh-puluh trek uphill/ tanjakan yang sangat menggoda dan sangat sayang untuk dilewatkan para goweser pencinta tanjakan atau uphiller. Hampir di seluruh penjuru kota Bandung tercinta ini memiliki setidaknya dua trek uphill yang menantang. Kalau boleh menyebut, dimulai dari kawasan Bandung Utara, kita mengenal trek Ciumbuleuit – Punclut – Lembang, trek Tangkuban Parahu yang sampai saat ini masih menjadi rute legendaris balap sepeda spesialis tanjakan, atau jalur Dago Bengkok – Lembang, trek Warban yang sudah sangat dikenal para goweser. Bergeser ke Bandung Timur kita mengenal Caringin Tilu, Jatihandap – Warung Daweung, dan Palintang. Kita juga tidak boleh melupakan trek Curug Cinulang – Kawasan Konservasi Gunung Masigit Kareumbi, yang meskipun secara administratif berada di kabupaten Sumedang, tapi akses menuju ke sana yang cukup dekat dari Bandung. Di sebelah tenggara kita mengenal trek Cijapati, kemudian trek Majalaya – Kamojang dengan tanjakan Montengnya yang sudah sangat melegenda di kalangan goweser. Kita juga tidak boleh  melewatkan trek Ciparay – Situ Cisanti, Jelekong Cangkring – Arjasari, Banjaran – Gunung Puntang, Pangalengan, Ciwidey -  Kawah Putih, Leuweung Datar, Sadu – Buper Andes, Puncak Mulya,  Cililin -  Walahir, atau Cimahi - Cisarua, semua itu adalah trek – trek uphill yang sudah sangat dikenal di kalangan goweser. Dan satu lagi trek uphil legendaris yang akan saya coba angkat adalah trek Leuweung Datar.

Trek Leuweung Datar dimulai dari pertigaan Citaliktik – Banda Sari di jalan raya Soreang – Banjaran dekat Mapolres, di ketinggian sekitar 700 mdpl, titik tertinggi dari trek ini berada di tanjakan Gunung Bubut dengan ketinggian sekitar 1.240 mdpl, elevasi dari titik start sampai titik tertingginya ±535 m dengan jarak 8 km, sangat menantang. Dari ujung titik tertinggi trek Leuweung Datar ini, kita ditawarkan dua pilihan titik finish, yaitu di Cisondari Pasir Jambu atau desa Sukanagara Panyirapan Soreang, pemandangannya cukup memanjakan mata, meskipun jarak tempuh menuju Cisondari Pasir Jambu lebih jauh karena harus memutar dulu ke Ciwidey, sedangkan turun melalui Panyirapan jelas lebih dekat karena kita langsung menuju kota Soreang.

Bagi goweser yang ingin mencicipi jalur ini ada beberapa alternatif jalan untuk menuju titik start di jalan Banda Asri Citaliktik. Yang pertama melalui jalan Kopo – Soreang, masuk ke jalan Warung Lobak – Gandasoli yang tembus langsung ke jalan raya Soreang – Banjaran di kampung Citaliktik, dari ujung jalan Gandasoli kita tinggal menyeberang dan langsung masuk ke jalan Citaliktik – Banda Asri. Yang kedua bisa melalui jalan raya Dayeuhkolot – Banjaran, terus masuk ke jalan raya Banjaran -  Soreang dan di daerah Citaliktik langsung belok kiri menuju jalan Citaliktik – Banda Asri. Untuk yang ingin menempuh jalan yang relatif lebih sepi bisa mengambil jalur Cibaduyut – Sayuran, masuk ke jalan Bojong Kunci – Junti yang tembus ke Gandasoli, dari sana tinggal lurus mengikuti jalur yang dari Warung Lobak.

Jalan Citaliktik-Banda Asri

Titik awal trek ini sendiri dimulai dari jalan Citaliktik - Banda Asri dengan menyusuri jalan beton mulus membelah persawahan ke arah selatan, setelah ± 10 menit mengayuh sepeda, kita akan bertemu perempatan. Arah timur menuju kampung Ciluncat, ke barat menuju Panyirapan dan jalur yang akan kita tuju adalah ke arah kanan menuju jalan komplek Banda Asri. Perjalanan menuju ke komplek Banda Asri sudah mulai dihiasi tanjakan – tanjakan landai, lumayan sebagai pemanasan dan mempersiapkan kondisi fisik kita sebelum menghadapi ujian sebenarnya dari trek ini, yaitu rute komplek Banda Asri menuju Gunung Bubut kampung Leuweung Datar. Setelah 10 menit pedal dikayuh, sampailah kita di pertigaan komplek Banda Asri, dan jalan yang akan kita tempuh adalah belokan ke kiri. Dan tak berapa lama kemudian, tampak sebuah tanjakan menghadang dengan kondisi jalan tidak begitu bagus, rupanya ini adalah “tanjakan selamat datang”, menapaki tanjakan ini barulah mulai terasa nafas menjadi agak tersengal-sengal. Agak panjang juga ternyata tanjakan ini, untungnya selepas belokan di ujung tanjakan kondisi jalan menjadi lebih bersahabat, meskipun ternyata tanjakan ini masih belum berakhir. 



Pertigaan Komplek Banda Asri

Tanjakan "selamat datang"





10 menit berlalu, ternyata jalan menanjak ini masih berlanjut, namun jalan yang mulus memudahkan kaki mengayuh pedal sepeda, meskipun harus tetap dengan nafas tersengal dan diiringi cucuran keringat untuk melaluinya. Ternyata membutuhkan waktu 1 jam lebih untuk mencapai ujung tanjakan ini, padahal jarak yang ditempuh tidak lebih dari 2 km.  Akhirnya sampai juga di kampung Leuweung Datar. Pertama yang dicari di sini adalah warung, karena sejak dari Citaliktik belum sempat sarapan, sehingga ketika sampai di sinilah kesempatan saya dan teman -teman untuk mengisi perut sekaligus mengatur nafas dan mengembalikan stamina yang sudah agak berkurang, mengingat yang akan dihadapi di depan adalah 4 rangkaian tanjakan yang menjadi ciri khas dan inti dari trek ini, keempat tanjakan ini secara berturut – turut yaitu tanjakan Rahong, tanjakan Omen, tanjakan Koneng dan yang terakhir adalah tanjakan Gunung Bubut. Di sini juga saya membeli tambahan bekal cemilan dan air minum, mengantisipasi kehabisan bekal, terutama air minum sementara jarak menuju desa terdekat masih jauh.

Setelah stamina terkumpul satu per satu sepeda kembali dikayuh menyongsong tantangan terberat dari trek ini, empat tanjakan sudah siap menyambut kami, menantang kami apakah kami akan mampu melewatinya dengan sukses, tanpa “TTB/ tuntun bike” tentu saja. Selepas perkampungan, di ujung sebuah jembatan kecil, sudah menanti satu tanjakan curam, itulah rupanya tanjakan Rahong, meskipun tidak mudah, tapi tanjakan ini masih bisa dilalui tanpa TTB berhubung kondisi jalan yang masih relatif mulus dan badan masih segar karena sebelumnya kami telah beristirahat. Namun setelah menempuh sekitar 200 m jalan yang datar, kami bertemu lagi dengan satu tanjakan curam yang dikenal dengan tanjakan Omen, tanjakannya lebih panjang dari tanjakan Rahong plus kondisi jalan yang buruk menjadi tantangan dan hambatan tersendiri yang harus dihadapi selain curamnya tanjakan itu sendiri. Saya coba menaklukkannya, namun seperti perkiraan sebelumnya, kondisi jalan yang buruk mempersulit sepeda untuk dikendalikan, baru setengah tanjakan saya pun menyerah, sulit sekali mengayuh pedal sepeda melintasi kerikil – kerikil lepas di jalan menanjak, ban kehilangan traksi dan selip, akhirnya kakipun menyentuh tanah. Tapi saya tidak mau menyerah begitu saja, setelah mengumpulkan tenaga dan mempelajari jalur yang akan dilalui tanpa harus mengalami selip lagi, pedal pun dikayuh kembali, semua tenaga dikeluarkan, menjaga kayuhan dan handling agar stabil, dan akhirnya bisa juga menaklukkan tanjakan ini, meskipun harus 2 kali berhenti. Sedikit sebelum ujung tanjakan ini adalah sebuah belokan tajam, dan tepat di muka belokan ini ada dataran agak luas, di sinilah kami berhenti dan menyaksikan teman - teman yang sedang berjuang berjibaku menaklukkan tanjakan Omen. Di sini kami kembali mengatur nafas, tersisa 2 tanjakan lagi untuk bisa menaklukkan trek ini, setelah 30 menit kami beristirahat dan regrouping, perjalanan pun kembali dilanjutkan.




Tanjakan Rahong

Berjibaku di Tanjakan Omen


Berjibaku di Tanjakan Omen

Berjibaku di Tanjakan Omen

Tanjakan Omen

Selepas belokan tajam menuju ujung tanjakan Omen, kondisi jalan menjadi semakin buruk, nyaris tidak ada lagi aspal tersisa, hanya hamparan kerikil – kerikil lepas sepanjang jalan menanjak menuju tanjakan Koneng, tanjakan yang harus kami hadapi berikutnya. Mengayuh sepeda menyusuri jalan ini pun sudah cukup menyiksa, belum lagi kami masih akan berhadapan dengan tanjakan Koneng, tanjakan ketiga. Benar saja, penderitaan kami belum berakhir, kondisi tanjakan Koneng selain curam juga setengah dari tanjakan ini kondisi jalannya buruk, sama seperti tanjakan Omen tadi, kami akhirnya memilih untuk menuntun sepeda kami melewati jalan yang buruk ini, sampai ke pertengahan tanjakan Koneng, karena dari pertengahan sampai ke ujung tanjakan ini kondisi jalan kembali mulus. Tapi ternyata stamina yang kembali terkuras setelah melewati 2 tanjakan sebelumnya menjadi tantangan tersendiri lagi untuk menaklukkannya, beberapa teman ada yang mencoba menaklukkan tanjakan ini dengan mengendarai sepedanya, namun ada pula beberapa teman yang memilih untuk TTB saja menuju ujung tanjakan Koneng. 



Disambut jalan rusak menuju Tanjakan Koneng




TTB bersama di Tanjakan Koneng

Tanjakan Koneng


Di ujung tanjakan Koneng sudah terlihat tanjakan terakhir, tanjakan Gunung Bubut siap menghadang. Kami pun beristirahat di bibir tanjakan Gunung Bubut, mengatur nafas yang tersengal - sengal dan mengumpulkan tenaga untuk menaklukkan tanjakan terakhir ini. Beberapa teman yang sudah berpengalaman bersepeda sudah dari tadi sampai di ujung tanjakan ini, menunggu dan siap mengabadikan momen – momen kami yang tengah berjuang sambil tertatih – tatih disiksa tanjakan Gunung Bubut. Dengan 1 kali berhenti di tengah - tengah tanjakan dan dengan nafas yang semakin tersengal saya berhasil juga sampai di ujung tanjakan, dan 10 menit kemudian teman - teman yang memilih TTB menyusul kami yang sudah tiba lebih dulu di ujung tanjakan Gunung Bubut, tanjakan terakhir di trek Leuweung Datar ini. Di ujung tanjakan gunung bubut tidak terlalu banyak view yang bisa dinikmati, hanya sedikit pemandangan ke arah timur lumayan bisa mengobati rasa lelah menuntaskan rute menanjak ini. Bagi yang ingin mendapatkan pemandangan menarik, perjalanan bisa dilanjutkan menuju Pasir Jambu Ciwidey, selepas tanjakan terakhir ini akan tersaji pemandangan indah pesawahan, perbukitan, dan pemukiman-pemukiman di kawasan Baleendah, Banjaran, Dayeuhkolot dan sekitarnya di sebelah kiri kita, dan di sebelah kanan kita tersaji pemandangan alam kota Ciwidey. 




Tanjakan Gn Bubut



Foto bersama di ujung tanjakan Gn Bubut

Setelah semua berkumpul perjalanan dilanjutkan kembali, tidak menuju Pasir Jambu Ciwidey tetapi menuju desa Sukanagara Soreang, untuk mempersingkat jarak dan waktu tempuh berhubung sebagian besar dari kami tidak berencana untuk bersepeda fullday saat itu. Setelah disambut dengan satu tanjakan perjalanan diakhiri dengan turunan sepenuhnya, mulai dari turunan makadam dari gunung bubut sampai desa Sukanagara sejauh kurang lebih 2 km, dan dilanjut dengan turunan di jalanan aspal mulus menuju desa Panyirapan Soreang sebagai titik finish dari trip menantang ini. 








Dan selama perjalanan pulang terselip perasaan puas karena akhirnya saya dan teman-teman bisa juga menjajal salah satu trek uphill legendaris di Bandung ini, trek Leuweung Datar.


Dimuat di HU Pikiran Rakyat edisi 15 September 2013